Powered by Blogger.

Ads 468x60px

Featured Posts

Saturday, 28 April 2012

PASAR KLITHIKAN NOTOHARJO

  
Pasar Kllitikan Notoharjo

Pasar barang bekas, orang Jawa menyebutnya klithikan, pasar loak, atau orang Belanda menyebutnya twedehand markt, kiranya telah menjadi fenomena universal. Di berbagai belahan dunia senantiasa ditemukan pasar barang bekas. Di Kota Solo, Pasar barang bekas itu bernama Pasar Notoharjo.Pasar Notoharjo adalah pasar klitikan  yang ada di Kota Solo. Pasar ini adalah pasar yang khusus menjual barang-barang bekas seperti barang elektronik, sparepart kendaraan, ponsel, dan lain-lain.
Pasar Notoharjo dibangun pada tahun 2006 oleh pemerintah Kota Solo. Pasar Notoharjo terletak di Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, di atas lahan seluas 1800 m2. Pasar ini dibangun untuk menampung  pedagang kaki lima yang direlokasi dari kawasan Taman Monumen 45 Banjarsari yang berjumlah  909 orang. Tahun 2012 ini jumlah pedagang yang menghuni pasar Notoharjo bertambah 96. Tambahan ini berasal dari hasil relokasi PKL Jalan Veteran.  PKL yang direlokasi ke Pasar Notoharjo mendapatkan fasilitas shelter secara Cuma-Cuma, bebas retribusi selama 6 bulan.  
Pemkot Solo menargetkan dalam jangka waktu 2-3 tahun pasar Notoharjo akan menjadi pasar klithikan terbesar di Indonesia.  Untuk menuju target tersebut, Pemkot akan melakukan pengadaan berbagai fasilitas yang diperlukan, misalnya perbaikan atau pelebaran jalan di sekitar pasar, perbaikan drainasse, pengadaan sarana angkutan menuju pasar, serta penambahan modal bagi para pedagang.
Sejak dibuka pada tahun 2006 sampe sekarang 2012 berarti telah 6 tahun Pasar Notoharjo berdiri. Mari kita lihat janji pemkot Solo untuk menjadikan pasar klitikan Notoharjo sebagai yang terbesar di Indonesia. Jika dilihat kondisi sekarang, keadaan Pasar Notoharjo belum mengalami kemajuan pesat, memang ada perbaikan disana sini. Namun, hal itu tidak serta merta menjadikan Pasar Notoharjo menjadi pasar klithikan terbesar. Yang lebih penting sebenarnya adalah bagaimana PKL yang direlokasi ke Pasar Notoharjo tersebut dapat beradaptasi di lokasi yang baru yaitu di Pasar Notoharjo. Sebagai pedagang yang baru berjualan di Pasar Notoharjo, tentunya PKL harus melakukan beberpa penyesuaian. PKL yang berubah status menjadi pedagang pasar harus memulai usahanya dari nol. Ditempat yang baru, mereka belum memiliki pelanggan. Kondisi Pasar belum seramai ketika mereka masih berada di pinggir jalan, ini menyebakan dampak psikologis pedagang. Keadaan pasar yang masih sepi, sulit mendapatkan pelanggan, dan kalah bersaing dengan pedagang yang lebih besar modalnya menyebabkan beberapa pedagang menjual  kiosnya. Akhirnya mereka kembali lagi menjadi PKL. Disinilah seharusnya pemerintah mengambil perannya. Pemerintah tidah boleh berhenti pada pembangunan infrastrukturnya, jika hanya berhenti pada pembangunan infrastrukturnya, maka pemerintah akan berhenti di tahun 2006, dimana pembangunan Pasar Notoharjo selesai. Akan tetapi lebih dari itu, pemerintah harusnya juga melihat, bagaimana pengelolaan Pasar Notoharjo, bagaimana dampak pembangunan pasar terhadap ekonomi, sosial, dan lingkungan sekitar pasar, bagaimana respon dan adaptasi PKL yang direlokasi ke Pasar Notoharjo, karena tidak semua PKL memiliki respon dan adaptasi yang tinggi terhadap perubahan yang mereka alami. Tidak sedikit pedagang yang adaptasinya masih rendah, mereka yang menjual kiosnya itu termasuk yang beradaptasi rendah. Sehingga residu dari proses relokasi ini masih banyak. Nah, mereka inilah yang seharusnya mendapat perhatian yang lebih dari Pemkot Solo, khususnya Dinas Pengelola Pasar. PKL yang sulit beradaptasi inilah yang sebenarnya rawan sosial dan ekonomi, dan wajib mendapatkan perlindungan dari pemerintah. Pemerintah harus memaksimalkan perannya. Jika pemerintah mengklaim pembangunan infrastruktur dapat mensejahterakan rakyat, maka konsep ini yang seharusnya diambil oleh pemerintah. Karena pembangunan tidak berada di ruang vacuum, tetapi ada di ruang sosial.  Konsep pengelolaan infrastruktur dan pembangunan masyarakat dapat dilihat dengan jelas pada gambar di bawah ini:
Pasar Notoharojo akan benar-benar menjadi pasar klitikan terbesar di Indonesia dan keberadaannya akan dapat mensejahterakan rakyat khususnya PKL yang telah direlokasi ke tempat itu, dengan syarat pemerintah kota Solo benar-benar mengawal proses berkembangkanya pasar Notoharjo.



1 comment:

Saturday, 28 April 2012

PASAR KLITHIKAN NOTOHARJO

  
Pasar Kllitikan Notoharjo

Pasar barang bekas, orang Jawa menyebutnya klithikan, pasar loak, atau orang Belanda menyebutnya twedehand markt, kiranya telah menjadi fenomena universal. Di berbagai belahan dunia senantiasa ditemukan pasar barang bekas. Di Kota Solo, Pasar barang bekas itu bernama Pasar Notoharjo.Pasar Notoharjo adalah pasar klitikan  yang ada di Kota Solo. Pasar ini adalah pasar yang khusus menjual barang-barang bekas seperti barang elektronik, sparepart kendaraan, ponsel, dan lain-lain.
Pasar Notoharjo dibangun pada tahun 2006 oleh pemerintah Kota Solo. Pasar Notoharjo terletak di Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, di atas lahan seluas 1800 m2. Pasar ini dibangun untuk menampung  pedagang kaki lima yang direlokasi dari kawasan Taman Monumen 45 Banjarsari yang berjumlah  909 orang. Tahun 2012 ini jumlah pedagang yang menghuni pasar Notoharjo bertambah 96. Tambahan ini berasal dari hasil relokasi PKL Jalan Veteran.  PKL yang direlokasi ke Pasar Notoharjo mendapatkan fasilitas shelter secara Cuma-Cuma, bebas retribusi selama 6 bulan.  
Pemkot Solo menargetkan dalam jangka waktu 2-3 tahun pasar Notoharjo akan menjadi pasar klithikan terbesar di Indonesia.  Untuk menuju target tersebut, Pemkot akan melakukan pengadaan berbagai fasilitas yang diperlukan, misalnya perbaikan atau pelebaran jalan di sekitar pasar, perbaikan drainasse, pengadaan sarana angkutan menuju pasar, serta penambahan modal bagi para pedagang.
Sejak dibuka pada tahun 2006 sampe sekarang 2012 berarti telah 6 tahun Pasar Notoharjo berdiri. Mari kita lihat janji pemkot Solo untuk menjadikan pasar klitikan Notoharjo sebagai yang terbesar di Indonesia. Jika dilihat kondisi sekarang, keadaan Pasar Notoharjo belum mengalami kemajuan pesat, memang ada perbaikan disana sini. Namun, hal itu tidak serta merta menjadikan Pasar Notoharjo menjadi pasar klithikan terbesar. Yang lebih penting sebenarnya adalah bagaimana PKL yang direlokasi ke Pasar Notoharjo tersebut dapat beradaptasi di lokasi yang baru yaitu di Pasar Notoharjo. Sebagai pedagang yang baru berjualan di Pasar Notoharjo, tentunya PKL harus melakukan beberpa penyesuaian. PKL yang berubah status menjadi pedagang pasar harus memulai usahanya dari nol. Ditempat yang baru, mereka belum memiliki pelanggan. Kondisi Pasar belum seramai ketika mereka masih berada di pinggir jalan, ini menyebakan dampak psikologis pedagang. Keadaan pasar yang masih sepi, sulit mendapatkan pelanggan, dan kalah bersaing dengan pedagang yang lebih besar modalnya menyebabkan beberapa pedagang menjual  kiosnya. Akhirnya mereka kembali lagi menjadi PKL. Disinilah seharusnya pemerintah mengambil perannya. Pemerintah tidah boleh berhenti pada pembangunan infrastrukturnya, jika hanya berhenti pada pembangunan infrastrukturnya, maka pemerintah akan berhenti di tahun 2006, dimana pembangunan Pasar Notoharjo selesai. Akan tetapi lebih dari itu, pemerintah harusnya juga melihat, bagaimana pengelolaan Pasar Notoharjo, bagaimana dampak pembangunan pasar terhadap ekonomi, sosial, dan lingkungan sekitar pasar, bagaimana respon dan adaptasi PKL yang direlokasi ke Pasar Notoharjo, karena tidak semua PKL memiliki respon dan adaptasi yang tinggi terhadap perubahan yang mereka alami. Tidak sedikit pedagang yang adaptasinya masih rendah, mereka yang menjual kiosnya itu termasuk yang beradaptasi rendah. Sehingga residu dari proses relokasi ini masih banyak. Nah, mereka inilah yang seharusnya mendapat perhatian yang lebih dari Pemkot Solo, khususnya Dinas Pengelola Pasar. PKL yang sulit beradaptasi inilah yang sebenarnya rawan sosial dan ekonomi, dan wajib mendapatkan perlindungan dari pemerintah. Pemerintah harus memaksimalkan perannya. Jika pemerintah mengklaim pembangunan infrastruktur dapat mensejahterakan rakyat, maka konsep ini yang seharusnya diambil oleh pemerintah. Karena pembangunan tidak berada di ruang vacuum, tetapi ada di ruang sosial.  Konsep pengelolaan infrastruktur dan pembangunan masyarakat dapat dilihat dengan jelas pada gambar di bawah ini:
Pasar Notoharojo akan benar-benar menjadi pasar klitikan terbesar di Indonesia dan keberadaannya akan dapat mensejahterakan rakyat khususnya PKL yang telah direlokasi ke tempat itu, dengan syarat pemerintah kota Solo benar-benar mengawal proses berkembangkanya pasar Notoharjo.



1 comment:

 

Blogger news

Blogroll

About